Kesehatan Mental

Bagi para pekerja lepas, remote working, yang tak punya kantor: bagaimana cara menjaga kesehatan mental kalian? Kesehatan mental seringkali dilihat sebelah mata. Kita masih terbiasa melihat, sehat dari kacamata fisik saja. Padahal kesehatan mental juga penting.

Asosial, kesepian, tak ada teman, introvert, adalah deskripsi yang umum dilekatkan kepada para pekerja lepas, remote worker. Selalu berinteraksi via komputer. Padahal interaksi langsung dengan manusia tak tergantikan.

Lantas, bagaimana cara menjaga kesehatan mental para remote worker? Yuk berbagi di sini.

1 Like

Kesehatan mental ya (semoga persepsi nya sama dengan saya :laughing: ).
Ya gimana, soalnya kurang lebih kan 5 hari kerja sendirian, di depan laptop, jujur si kalau di rasain emang rasanya itu… jenuh, bosen, ngerasa terasing, apalagi kalau ngumpul dengan banyak orang, belum lagi kadang agak susah komunikasi sama orang lain, setelah menyadari hal tsb gak baik, akhirnya saya mencoba untuk melakukan sesuatu hal yang berbeda seperti, aktif sharing di komunitas offline dan online, menyempatkan bergaul dengan orang-orang yang berbeda karakter, berbeda jenis pekerjaan, dan berbeda jenis pendapatan, serta yang tak kalah penting juga saya senantiasa berusaha untuk memenuhi kebutuhan spiritual saya, karena saya fikir kesehatan mental ini sangat berkaitan erat dengan kondisi spiritual seseorang.
Mungkin itu aja yang bisa saya sampein mas, jadinya malah curhat, hehehe.
Burung Irian Burung Cendrawasih, Cukup sekian dan Terima Kasih.

Untungnya meski remote saya manage team dan bukan di bidang IT. Jd gak terlalu mesin banget.

Gak terasa 10thn nan leoas dr hirukpikuk kantoran

Wkt nyempetin ketemu temen2 smp buat dinner bareng ngobrol2 br sadar alhamdulillah ternyata gak ketinggalan jaman saya.
Jd sementara kesimpulannya saya ontrack dan harus diterusin kebiasaan ktm temen2 sekedar ngobrol, ke majelis taklim bareng atau ketemuan bawa keluarga

Saya agak bingung menjaga kesehatan mentalnya gimana. Jarang burnout juga sih kecuali kalau pas banget harus kerja 7 hari seminggu dan lebih dari 10 jam per hari. Baru bener-bener bikin perusahaan yang remote first ini 2 tahun belakangan. Kerjanya juga ga sendirian, selalu kerja bareng istri jadi ada teman ngobrol. Ya walaupun sama-sama kerja di rumah dengan kerjaan yang sama, kami kalau kerja ngobrolnya tetap lewat messenger.

Selain istri, ada lagi teman anti kesepiannya: dua kucing ngehe ini.

Gangguan kesehatan mentalnya apa dulu, nih? Beberapa waktu terakhir ini banyak banget yang mudah menyimpulkan diri mengidap depresi, padahal mungkin “hanya” burnout dan masih bisa ditangani sedini mungkin. Atau mungkin memiliki disorder yang lain, tetapi digeneralisasi sebagai depresi.

Kalau saya sendiri, kucing-kucing saya bertindak sebagai balancer. Mereka bisa menghibur saya. Punya hobi yang tidak ada kaitannya dengan teknologi digital juga sangat membantu. Misalnya olahraga, berkebun, atau membaca buku. Hal-hal yang bisa dikerjakan dalam waktu singkat, dan tidak perlu pusing mengatur budget seperti traveling. Kalau misalnya tidak bisa, ya cari pertolongan. Lakukan apa saja yang bisa menyeimbangkan hidupmu.

And also, sebagai makhluk sosial, sekalipun kerja remote yang jarang ketemu manusia secara langsung setiap harinya, usahakan tetap involve di berbagai komunitas atau kegiatan yang bisa membuatmu lebih banyak berinteraksi, ya.

Dulu saya pernah terkena PTSD. Efeknya masih ada sampai sekarang. Tapi karena saya dan suami tinggal di area yang akrab dengan liburan di pantai tropis, itu sangat membantu untuk menyeimbangkan hidup saya. Plus, saya belajar untuk jadi stoic. I don’t give a f##k about so many things, I just give a f##k for things that matter to me and in my control.

Like Mark Manson said,

If you find yourself consistently giving too many fucks about trivial shit that bothers you, chances are you don’t have much going on in your life to give a legitimate fuck about. And that’s your real problem.

Kalau misalnya kamu merasa ada yang membuat jiwamu merasa tidak nyaman, sebaiknya jangan diam saja, ya. Hubungi psikolog dan jadwalkan konsultasi. Pada harinya, jangan lupa datang. Ceritakan pada mereka apa yang kamu rasakan, karena mereka yang lebih paham soal kesehatan mental. Walaupun itu hanya hal-hal yang kamu anggap remeh, tapi hal-hal kecil itu makin lama makin menumpuk.

  1. ngegosip
  2. olahraga
  3. traveling
  4. having sex
1 Like

Ini mungkin kembali ke kondisi mental masing2 sih ya. Kalau saya pribadi yang paling kerasa memberatkan mental itu ya karena perasaan isolasi. Apalagi setahun terakhir ini lebih sering stay di kampung yang jauh dari hiburan dan jauh dari teman2 yang kebanyakan pada tinggal di kota.

Cara mengatasinya? Salah satunya bisa dengan cari pengalaman baru. Contohnya minggu lalu saya baru aja jadi sukarelawan di satu festival buku di Bali. Lumayan, bisa dapat teman baru dan nonton panelis yang keren2.

Selain itu, biasanya saya juga usahain untuk pergi keluar kota setidaknya sebulan sekali. Cari-cari alasan aja. Bisa dibikin sekalian ikutan acara, atau untuk sekedar ketemu temen2 di kota.

Kalau udah berkeluarga mungkin agak susah ngelakuin 2 hal itu, sih. Tapi aku ngebayanginnya, mungkin bisa bikin komunitas pekerja remote di daerahnya, trus ngadain piknik bareng2 gitu (ini terinspirasi temen yang gabung komunitas home schooling di daerahnya dan sering ngadain kegiatan serupa, sih).

Intinya sih, cari cara untuk keep in touch with the outside world aja.

Di Jakarta, belakangan saya mencoba lompat-lompat ke cafe untuk ganti suasana setiap beberapa hari… Sekarang rencananya mencoba coworking space yang mulai banyak, siapa tahu ganti suasana yang lebih “tenang” lebih enak. Saya agak sedih di Indonesia kurang banyak perpustakaan yang terawat dan bersih, karena saya rasa itu sebenarnya tempat ideal. Di sisi lain, sisi ergonomis dan kesehatan fisik jadi jatuh kalau terpaksa duduk di kursi keras dan melototin laptop seharian…

1 Like

@rizqi Wah mas, salah ini pernyatannya. Perpustakaan di Indonesia kan sedikit :see_no_evil: Bisa dihitung pakai jari kok.

Suka ke perpustakaan mana biasanya mas? Sesekali saya sendiri suka ke perpustakaan dikbud. Semoga kak Nadiem mau menambahkan game center nanti di perpustakaan ini :grin:

Wah terima kasih, banyak sekali tanggapannya :relieved:

Ya, intinya kesehatan mental tak kalah penting dengan kesehatan fisik. Bagi yang sudah lama bekerja remote, misal sudah lebih dari 3 tahun, atau bahkan lebih dari 7 tahun, menurut saya perlu lebih hati-hati.

Saya sendiri sekarang kepikiran mau olahraga dulu sebelum mulai kerja. Mulai dari lari, sepeda-an, atau renang. Semoga gak jadi berhenti jadi ide semata :sunglasses: