Mempersiapkan ruang kerja di rumah untuk pekerja remote

Yang namanya kerja dari rumah bukan berarti kerja di meja makan ya. Namanya juga kerja, jadi Lo tetap harus dedikasikan area/ruangan khusus untuk bekerja. Kalo ngga, your productivity will drop. Beneran deh.

Ini hal-hal yang gw beli atau ada di wish list gw ketika pertama kali memutuskan kerja dari rumah.

Hardware

  • Komputer. Ini sih udah jelas lah ya.
  • Meja kerja. Gak perlu yg fancy. Temen gw ada yg DIY pake kayu sisa bongkaran rumah. Lalu dibikin mulus dan rata aja. trus tinggal pasangin kaki2 meja. Di IKEA jual kok kaki doang.
  • Kursi kerja yang nyaman. Kalo ini cari yg paling mahal kalo perlu. Lo kerja harus senyaman mungkin.
  • Headset buat concall/hangout/skype sama tim di India atau klien di Jakarta. Cek review online untuk yg kualitas suaranya bagus.
  • Papan tulis atau sticky note buat nyatet2. Karena gak ada project manager atau atasan yg ingetin deadline tiap hari. Jadi gw biasakan untuk menyimpan catatan di tempat yang mudah terlihat.
  • Printer 3 in 1 (print, scan, copy) buat cetak2 invoice/kontrak. Untuk di awal bisa ke snapy atau sejenisnya sih. Tapi murah kok sebenarnya. Dibawah 1jt.
  • Binder buat nyimpan salinan invoice/kontrak barusan.
  • Kalo meja kerja Lo gak ada laci, beli box2 storage buat penyimpanan. Supaya gak berantakan.
  • Desk stand hape buat yg kerjanya banyak berurusan dengan handphone. Kalo perlu cari yg bisa jadi charger sekaligus.
  • Paket Internet rumahan yang stabil. Kalo bisa sih jangan pake modem ya.
  • Penerangan yang cukup. Jangan kerja di bawah lampu remang2 ya.

Software

  • Trello. Udah paham lah ya.
  • Spreadsheet buat nyatet uang/barang/aset yang keluar/masuk. Gw personally pake Airtable. Tapi ini tergantung kebutuhan sih. Bbrp jenis bisnis mungkin perlu software pencatatan yang lebih spesifik. Intinya everything harus on the record.
  • Focus (Mac), Ini buat ngeblok website2 yg suka bikin gak fokus kerja. Terutama buat nyubi yang belum bisa disiplin waktu nih.
  • Email bisnis using your own domain/brand. Biar keliatan profesional gitu lho kalo komunikasi sama klien. Bisa pake Zoho atau Gsuite.
  • Online backup/storage macam Dropbox atau Google Drive supaya file2 pekerjaan Lo aman. Gw pribadi langganan Google Drive yg extra storage 100GB.

Udah, itu aja sih yg menurut gw penting. Silahkan ya kalau ada yg mau menambahkan.

6 Likes

Sepakat dengan ini. Walaupun kerja dari rumah tetap harus ada titik khusus sebagai “tempat kerja”. Kalau saya sih tools yang digunakan:

  • Laptop
  • Meja kerja. Ini ada dua meja kerja (di dalam rumah) dan meja makan (di halaman belakang, enak kalau lagi ga berangin) hahaha kenapa begitu? Karena kami di rumah malah jarang makan di meja makan.
  • Buku catatan kecil
  • Internet provider yang tidak menerapkan internet positif. Jadi ga perlu langganan VPN lagi. Ini menurut saya penting banget.

Kalau untuk software:

  • Yandex, ini biar bisa email pakai custom domain dan gratisan lho layanannya. Saya sudah pasrahkan data saya ke mother Russia haha
  • Spreadsheet, kegiatan saya berpusat di sini semua.
  • Notion, untuk catatan pribadi.

Segitu dulu deh kalau dari saya.

1 Like

Halo semua.

Bagaimana mempersiapkan ruang kerja di rumah jika di rumah ada anak-anak atau bahkan bayi? Ada tips?

1 Like

Gw juga ada anak kecil di rumah. Cukup komunikasi aja sih bro. Sesimpel itu.

Kasi pengertian ke keluarga soal “batas suci” space kerja dan jadwal kerja Lo. Lama2 juga paham sendiri.

2 Likes

:slight_smile: Boleh tahu kalau selama ini kerja di jam kerja (baca 9-17) atau lebih banyak mode kalong (baca: malam)?

1 Like

Lebih banyak di jam normal sih kalo gw. Gw kan masih mau ketemu keluarga bro. Susah kalo ngalong. Tapi kalo lagi ada deadline, sekitar jam 9an abis anak tidur gw bisa lanjut lagi.

1 Like

Topik menarik ini terutama untuk yg udah berkeluarga / yg rumahnya rame.

Sebelum ada kantor aku juga kerja full dirumah. Selama ini belum pernah punya ruangan sendiri sih :cry:

Cuman salah satu sudut rumah aku taruh meja kerja & rak/laci. Jadi ga terlalu kebal sama distraction

Akhirny sekarang lebih sering ke kantor / coworking space

Ini tools2 yg aku pake

Hardware:

  • Macbook Pro
  • Keyboard bluetooth logitech
  • Mouse wireless logitech
  • Headset senheiser yg standard
  • stand laptop nexstand
  • Meja lipat krisbow
  • Kursi yg ergonomis n enak (ini penting banget untuk yg kerjanya duduk seharian)

Software:

  • Notion (task management, scheduling, random notes)
  • Harvest time tracking & invoice
  • sisanya standard2
1 Like

Ini yang paling penting haha biar bisa jadi pusat perhatian di co-working space :rofl:

2 Likes

Gue kerja remote sudah sekitar 8 tahunan kalau ditotal. Awal-awal tahun pertama selalu kerja dari ruangan khusus untuk bekerja tapi 2 tahunan belakang bosen banget kerja dari ruang kerja khusus begitu karena rasanya terisolir dan minim interaksi manusia :joy:Belakangan malah kerja dimana saja yang penting nyaman. Kadang di ruang kerja (terutama kalau confrence call), kalau sedang ingin agak ramai di meja keluarga (anak baru satu dan usia 4 tahun sudah tahu kalau bapaknya di depan laptop sedang kerja - not sure if this is good or not), kadang-kadang di tempat lain. Sudah pernah coba di cafe atau co-working space tapi tidak pernah merasa nyaman karena perjalanannya malah jadi terlalu lama.

Hampir semua poin yang gue ingin sampaikan sudah disampaikan diatas; yang mungkin belum:

  • Time tracking app. Klien gue ngga minta tapi gue pake buat kebutuhan sendiri biar tau udah berapa lama kerja dalam sehari.
1 Like

sepakat, dirumah ada ruangan kecil yg mereka kenal dg ‘kerjaan ayah’ segala macam yg ada disana mereka gak berani utak utik, pun ketika saya lagi duduk disana, tanpa dilarang mereka sudah ngerti kalo kita tetapkan batas dan ceritakan bahwa kita sedang bekerja, hmm mungkin karena saya sdh spt ini dari mereka lahir kali ya :smiley:

1 Like

Good to know bro. Emang open air penting sih buat gw.

Ruang kerja gw kebetulan posisinya di bagian paling depan rumah. Jadi langsung menghadap taman/jalanan. Jendela selalu gw buka dan kebetulan gak ada pagar.

Jadi udaranya segar dan ada pemandangan hijau.

Gak semua orang have this privilege sih memang. Tapi posisi ruang kerja kayaknya juga harus dipertimbangkan ya. Jangan terlalu terisolasi juga.

Oh, dan gw masih suka bolak-balik Jakarta. Jadi emang gak selalu kerja di rumah.

1 Like

Gak semua orang have this privilege sih memang. Tapi posisi ruang kerja kayaknya juga harus dipertimbangkan ya. Jangan terlalu terisolasi juga.

Iya. Gue pribadi nggak terlalu ekstrovert tapi semakin kesini kerasa kalau terlalu terisolir begitu ngga terlalu sehat kayanya.

@daguswijaya

hmm mungkin karena saya sdh spt ini dari mereka lahir kali ya :smiley:

Ini sebenarnya sedang saya pikir-pikir juga; apakah malah jadi butuh tempat kerja di luar rumah biar anak melihat orang tuanya tidak di rumah terus? :thinking:

1 Like

Saya sudah memulai kerja remote sejak 2009, jaman masih kuliah. Pernah kerja on-site setahunan di Jakarta juga nggak kuat lama-lama. Cukup lah setahun saja. Saat ini pekerjaan saya paling banyak berurusan dengan desain produk (digital) dan marketing. Kalau sekarang working stack saya sih…

Hardware

  • Meja kerja dan kursi yang nyaman. Di rumah saya ada 2 set meja kerja, indoor dan outdoor. Selain itu, kadang kalau ingin agak santai bisa sambil leyeh-leyeh di daybed di ruang keluarga. :joy:
  • Papan tulis dan sticky notes untuk brainstorming dan sprint-ing.
  • Printer 3-in-1 yang hampir nggak pernah terpakai karena menjalankan bisnis sebagai perusahaan Estonia semua sudah serba digital (kecuali paperwork yang berhubungan dengan Indonesia).
  • Paket internet yang tidak kenal Internet Sehat, karena sesekali perlu mengakses situs hahah-hihih seperti reddit, vimeo, dan lainnya (bebas, apa saja). Yang paling menjengkelkan dari Internet Sehat adalah beberapa CDN terblokir sehingga mengganggu pekerjaan yang berhubungan dengan software development.

Software

  • Sketch, untuk menggambar user interface. Tools ini tetap yang terbaik menurut saya, sekalipun ada Figma dan lainnya. Yang tidak saya sukai dari Figma adalah karena harus selalu terkoneksi dengan Internet, dan aplikasinya bukan native, jadi terasa berat di mesin MacBook saya yang sudah berusia 7 tahun :cry:
  • Avocode, untuk mengotomasi workflow desain. Mempermudah dan mempercepat pekerjaan tim development. Sebelumnya saya memakai Zeplin. Tapi sejak beberapa bulan ini hijrah ke Avocode. Worth every penny!
  • Twist, untuk komunikasi dengan berbagai tim. Aplikasi komunikasi ini bersifat async, jadi cocok sekali buat saya yang nggak terlalu nyaman dengan high volume activity di channel komunikasi kantor. Saya nggak pernah nyaman dengan Slack, selain terlalu berat, juga terlalu berisik. :stuck_out_tongue:
  • Notion, buat catatan apapun. Suka banget dengan template-template nya yang fluid.
  • Bear, buat diary dan nulis bahan blog. Saya malas meletakkan ini di Notion.
  • Telegram, untuk chat dan tentu saja posting animated stiker :joy:. Yang ini sih khusus untuk grup-grup komunitas yang high volume dan butuh konsolidasi cepat.
  • Trello, untuk project management. Tapi sekarang sudah jarang dipakai, karena pindah ke Notion.
  • Pixelmator + Photoshop CS6, untuk edit foto. Kenapa nggak update ke PS CC? Saya malas bayar untuk tools yang jarang digunakan. :stuck_out_tongue: That doesn’t mean I’m using pirated software. I don’t. I always pay for softwares I use on my machine.
  • Dropbox + iCloud, buat backup data. Juga menyimpan foto-foto yang jarang dibuka, tapi nggak boleh dibuang.
  • Grammarly, buat bikin saya kelihatan jago bahasa Inggrisnya. :stuck_out_tongue:
  • MarsCraft, buat bantu fokus kerja dan menghilangkan hasrat ingin main game. :laughing:

Ngomongin soal open air, tinggal di Bali membantu saya untuk recharge. Saya bisa kerja di kafe 1-2x seminggu, karena butuh suasana kerja berbeda. Bear in mind that I have no children, but having two super demanding cats is just the same like having two babies that never grow old. :sob: Rumah saya jaraknya sekitar 8 menit dari pantai dengan berjalan kaki. Udaranya bersih, langitnya biru. Kenikmatan tinggal di Bali, di daerah yang terhitung sebagai kampung, dan hanya 40 menit ke Kuta atau 20 menit ke Ubud.

Saya lebih nyaman kerja di kafe seperti Starbucks atau Anomali ketimbang di coworking space. Beberapa kali mencoba kerja di coworking space malah kurang produktif. Kerja di kafe sebetulnya lebih mahal daripada kerja di coworking space, jika dihitung dari spending/hour. Coworking space per hari di Bali rata-rata 100-150 ribu untuk 24 jam. Tapi siapa yang mau kerja 24 jam? Kalau di Starbucks, 100 ribu hanya untuk sekitar 4 jam tapi banyak pekerjaan yang selesai, soalnya mahal. Itulah yang bikin saya jadi lebih produktif. :stuck_out_tongue_closed_eyes:

Syukurlah, saya termasuk orang yang punya privilege seperti ini…

2 Likes

Co-working space gak bisa ngasep juga biasanya. Jadi kebanyakan melipir buat ngasep jatohnya kalo gw. Cafe dan rumah tetep the best sih kalo gw.

And speaking of software, Foursquare is the best sih buat cafe warrior. Soalnya ada opsi buat cari spot yg punya “outdoor area” dan “good for working”. :ok_hand:

2 Likes

Saya sempat ada ide random yang muncul yaitu sewa ruko kecil dekat rumah buat kerja. Jadi tak perlu khawatir dengan distraksi di rumah dan tak perlu buang waktu juga untuk commute ke kantor.

Naik sepeda, sekalian kampanye ramah lingkungan :sunglasses: Eh tapi enaknya patungan buat sewa rukonya.

1 Like

Haha zaman dulu pas masih ngasep ini masalah banget nih. Sekarang berhubung sudah berhenti ya bisa kerja di mana aja, yang penting AC ruangannya jangan terlalu dingin. Saya ga tahan dinginnya AC.

1 Like

Tahun 2010-2012an dulu teman-teman di Bandung melakukan ini. Bikin yang namanya Hackerspace. Dulu ngontrak barengan sebelum co-working space menjamur seperti sekarang.

2 Likes

Kalau bareng-bareng gini suka ada yang ujung-ujungnya kerjaannya ngajak ngobrol orang gak?

1 Like

Nggak kok. Kalau lagi pada kerja ya sepi. Biasanya kalau sudah pasang earphone atau headphone artinya gak mau diganggu.

1 Like

Salam kenal mbak Retno Ika.
Kerja remote-nya ngapain aja mbak?

Beberapa tools-nya langsung saya cari nih. Trims.

1 Like